Tag Archive | "artikel"

Implementasi Sistem Informasi Manajemen dalam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah di MI Negeri Malang I


Sistem Informasi dan Manajemen merupakan salah satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas pendidikan. Kedua komponen ini memiliki hubungan dalam membentuk karakteristik dunia pendidikan. Manajemen dalam menggambarkan hubungan kedua aspek tersebut, adalah pendidikan sebagai penggeraknya terhadap sistem informasi pendidikan, sedangkan Sistem Informasi Manajemen (SIM) akan menjadi penentu kinerja pendidikan. SIM dapat dijadikan alternatif pilihan untuk meningkatkan kualitas madrasah dalam menyajikan aktivitasnya secara lebih cepat dan memiliki nilai tambah sehingga dunia pendidikan akan menghasilkan output yang memiliki daya jual yang tinggi.

Fokus penelitian ini adalah mendeskripsikan proses pengembangan SIM, faktor pendukung, faktor penghambat, dan upaya mengatasi hambatan dalam mengimplementasikan SIM bagi MPMBS. Penelitian ini dilakukan di MI Negeri Malang I, yang telah mengembangkan SIM. SIM yang berbasis pada teknologi informasi telah menjadi salah satu alat untuk meningkatkan efisiensi aktivitas operasional lembaga pendidikan di MI Negeri Malang I.

Pendekatan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan tanpa mengisolasi subjek penelitian dan dilakukan secara langsung di lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam kepada informan dan dokumentasi.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan:

  1. Proses pengembangan SIM yang dilakukan di MI Negeri Malang I dilaksanakan secara paralel atau bersamaan dengan kegiatan lainnya, tahapan yang dilakukan yaitu:
    a).  perencanaan (planning)
    b).  pengorganisasian (organizing),
    c).  pelaksanaan (actuating), dan
    d).  pengawasan (controlling)
  2. Faktor pendukung dalam pelaksanaan proses pengembangan SIM terdiri atas:
    a). adanya dukungan dari seluruh jajaran pegawai, guru-guru, karyawan, dan siswa sampai dengan jajaran komite madrasah yang sangat perhatian dengan citra madrasah di luar lembaga
    b). adanya pembinaan terhadap pegawai, guru-guru dan karyawan
    c). bertambahnya sarana dan prasarana pendukung yang cukup memadai
    d). adanya niat yang besar untuk selalu ingin belajar dan membenahi diri agar lebih baik lagi, baik dari Kepala Madrasah, Wakil Kepala Madrasah dan para koordinator bidang yang saling terkait dalam mendukung proses pengembangan SIM
  3. Faktor penghambat dalam proses pengembangan SIM terdiri atas:
    a)  Terbatasnya sumber daya manusia (Brainware) yang terampil dalam pengelolaan sistem informasi
    b) . Rendahnya kesadaran para pengelola sistem informasi dalam menyamakan komitmen kerja
    c).  Fasilitas pendukung yang masih akan ditingkatkan kembali
    d). Ancaman dan gangguan terhadap sistem yang berasal dari dalam maupun luar lembaga MI Negeri Malang
    I
  4. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan dalam mengimplementasikan SIM untuk pengembangan MPMBS di MI Negeri Malang I, terdiri atas:
    a). Perlu adanya pemahaman yang sama antara pihak manajemen dan pengelola sistem lembaga tentang pentingnya pelaksanaan SIM kepada seluruh warga madrasah termasuk guru dan siswa
    b). Melaksanakan pembinaan guna menambah pengetahuan teori dan keterampilan dalam pengelolaan sistem informasi yang tepat guna baik secara efektif dan efisien
    c). Meningkatkan kerjasama dengan lingkungan internal dan eksternal lembaga
    d). Memanfaatkan sarana dan prasarana pendukung dengan tepat guna
    e). Mengantisipasi ancaman dan gangguan terhadap sistem yang berasal dari dalam maupun dari luar lembaga MI Negeri Malang I.

Implikasi penelitian ini adalah:

  1. memperhatikan hasil penelitian sikap guru-guru dan karyawan terhadap SIM termasuk dalam kategori tinggi, tetapi sikap menerima terhadap SIM tergolong dalam kategori rendah, maka SIM yang ada sekarang perlu dikembangkan dan ditingkatkan dengan mendayagunakan segala perangkat sistem informasi yang tersedia untuk pengembangan SIM;
  2. mengingat sikap menerima terhadap SIM masih tergolong rendah, kiranya perlu ada peningkatan kreatifitas dalam pemanfaatan SIM berdasarkan kebutuhan efisiensi dan keefektifan untuk pengambilan keputusan berbasis data;
  3. pengembangan dan pemanfaatan SIM berdasarkan kebutuhan efisiensi dan keefektifan untuk pengambilan keputusan berbasis data dapat menjadi landasan bagi Desainer Sistem di MI Negeri Malang I untuk lebih termotivasi dalam mencoba hal-hal baru yang dapat meningkatkan mutu dan kualitas mereka yang pada akhirnya dapat melakukan inovasi-inovasi dalam pengembangan SIM.

Saran yang dapat disampaikan sebagai berikut: Berdasarkan hasil kesimpulan penelitian, disarankan kepada:

  1. Kepala madrasah beserta pegawai yang mendukung dalam proses pengembangan SIM di MI Negeri Malang I ini agar lebih meningkatkan kemampuan dalam mengadakan perbaikan dan penyempurnaan dalam pelaksanaan proses pengembangan SIM di MI Negeri Malang I,
  2. Jurusan Administrasi Pendidikan diharapkan jurusan lebih banyak lagi mengkaji tentang proses pengembangan SIM khususnya bagi lembaga pendidikan formal sebagai pendalaman dalam ilmu manajemen pendidikan,
  3. Departemen Agama Kota Malang hendaknya dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan masukan untuk memberikan dukungan terhadap madrasah yang telah menerapkan perbaikan mutu pendidikan melalui pelaksanaan proses pengembangan SIM, bentuk dukungan tersebut tidak harus dalam bentuk materi melainkan membantu mengawasi pelaksanaan proses pengembangan SIM pada suatu lembaga pendidikan sesuai dengan prosedur yang berlaku,
  4. Madrasah atau sekolah lainnya yang setingkat diharapkan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dan masukan untuk merumuskan dan mengembangkan kebijakan manajemen mutu yang terkait dengan pendekatan teknologi informasi dan komunikasi,
  5. Peneliti lain hendaknya dapat mengembangkan penelitian ini dengan metode-metode kualitatif dan kuantitatif yang lainnya, sehingga dapat menambah dan mengembangkan kajian ilmiah yang ada.

Sumber : http://dinnaamalia.wordpress.com/2010/01/17/implementasi-sistem-informasi-manajemen-dalam-manajemen-peningkatan-mutu-berbasis-sekolah-di-mi-negeri-malang-i/

Posted in School Information SystemComments (0)

Hambatan Pemanfaatan TIK untuk Pendidikan


Berangkat dari semakin banyaknya tugas sekolah yang mengharuskan siswa menggunakan fasilitas internet, berangsur bisa dirasakan manfaatnya oleh banyak pihak. Bahkan, sebagian tugas ada yang tidak disampaikan secara langsung, melainkan siswa harus aktif mengunjungi web sekolah secara periodik. Di sini kita bisa melihat ada manfaat yang berkembang.

Tetapi ternyata ada hambatan serius yang datangnya justru dari pihak orang tua. Saya ada beberapa pengalaman tentang ini. Saya memiliki kegiatan tambahan memberikan les private komputer. Kejadian ini terjadi kepada salah satu murid saya -sebut saja Ani-. Ani adalah siswi SMU dari keluarga berada. Tetapi orang tuanya memberikan batasan yang berlebihan kepada Ani dalam satu hal: Internet. Perangkat yang bisa digunakan untuk akses internet seperti hand phone juga dijauhkan dari kehidupan Ani. Sedangkan dalam pemenuhan tugas sekolah yang harus menggunakan internet, orang tua Ani memilih membayar saya untuk melakukannya.

Bagi orang tua Ani, hanya hal negatif yang ada di internet. Dengan pendekatan dan menunjukkan hal-hal yang saya pertimbangan bisa merubah pandangan orang tua Ani, akhirnya sekarang Ani mendapatkan haknya untuk belajar lebih banyak dari internet.

Semula saya beranggapan orang tua Ani adalah sosok unik, ternyata tidak. Saya pernah menjumpai seorang Ibu sedang menyeret anaknya ke luar dari sebuah warnet, sambil mengumpat kepada petugas warnet. Bahkan ibu ini mengatakan kepada anaknya bahwa warnet itu adalah tempat maksiat.

Dari beberapa teman kerja saya yang anaknya beranjak remaja juga banyak yang menanyakan kepada saya perihal anaknya yang minta ijin ke warnet. Kelompok orang tua ini saya yakin tidak sedikit jumlahnya. Mereka memiliki pandangan yang salah terhadap sesuatu yang dia sendiri tidak sedikitpun tahu.

Apakah kelompok orang tua ini sudah menjadi sasaran Pendidikan Masyarakat? Propaganda memasyarakatkan TI untuk pendidikan sudah seharusnya mencakup permasalahan ini. Karena para orang tua dalam tulisan ini juga memberikan pengaruh kepada para orang tua lain.

Sumber :  http://areebahu.blogspot.com *

Posted in School Information SystemComments (0)

Pemanfaatan TIK pada bidang Pendidikan ditinjau dari Pelaksanaan Pembelajaran


Akhir akhir ini perkembangan TIK (Teknologi Informasi Komunikasi) sudah sedemikian maraknya. Hampir seluruh instansi atau perusahaan memanfaatkan TIK tersebut. Misalnya saja dalam bidang perekonomian, dapat dilakukan transfer uang antar bank, transaksi jual beli lewat internet, dll.

Dalam bidang politik, dapat dilakukan quick count (hitung cepat pemilu) dimana data perolehan suara dikirim melalui SMS gateway dan data diolah dengan bantuan database. Bidang pendidikan pun tidak luput dari perkembangan TIK tersebut. Dalam tulisan ini saya akan memaparkan gagasan yang saya miliki terkait dengan pemanfaatan TIK di bidang pendidikan (e-education).

Menurut saya masih banyak bagian atau porsi di bidang pendidikan yang sebenarnya dapat memanfaatkan TIK. Dari segi pelaksanaanya, Pertama, TIK dapat digunakan untuk membantu pengajar dalam melakukan absensi. Selama ini yang kita tahu sejak SD hingga SMA, pengajar masih melakukan absensi secara manual, yakni dengan buku absen dan memanggil murid secara satu persatu. Padahal hal tersebut tentunya merepotkan dan jika dilihat dari kefektifan waktu, tentu saja ini cukup memakan waktu dan mengurangi waktu belajar di kelas. Ide saya terkait absensi ini adalah tiap murid dapat secara praktis melakukan absensi dengan menempelkan jari mereka pada suatu instrumen TIK dan data absensi langsung masuk ke database. Data absensi juga bisa diekses secara online oleh orang tua murid yang ingin mengetahui perkembangan anaknya di sekolah, entah melalui situs sekolah maupun SMS gateway

Kedua, TIK dapat diterapkan dalam mencatat nilai siswa dan mem-publish-nya. Selama ini guru mencatat nilai siswa secara manual. Untuk nilai ulangan harian, nilai UTS maupun nilai UAS. Setelah itu guru tersebut menghitung rata-ratanya keseluruhan sebagai nilai akhir. Tentunya akan lebih bijak jika kita mengurangi beban guru dengan membiarkan teknologi yang bekerja sehingga guru hanya perlu memasukkan nilai tersebut ke suatu instrumen TIK dan instrumen tersebut yang akan mengolah nilai akhir sehingga kesalahan akibat perhitungan manusia akan berkurang dan guru akan lebih nyaman dalam bekerja. Selain itu nilai yang sudah dimasukkan dapat langsung di-publish melalui situs sekolah sehingga semua proses penghitungan nilai siswa dapat diolah secara transparan. Siswa juga dapat melihat nilainya kapan saja dan dimana saja.

Ketiga, TIK dapat diterapkan dalam meletakkan modul pembelajaran. Hal ini dapat menjadi salah satu solusi akan mahalnya buku-buku cetak di Indonesia. Biasanya guru hanya menjelaskan materi di papan tulis dan sumber utamanya tetaplah buku cetak yang harganya mahal dan belum tentu semua materi di dalamnya akan dipelajari oleh siswa. Sebelum saya kuliah di Fakultas Ilmu Komputer UI, saya belum pernah mengalami suatu pembelajaran dimana modul yang saya pelajari pada perkuliahan diletakkan pada suatu wadah dan wadah tersebut juga memungkinkan saya untuk berdiskusi dengan teman maupun pengajar, mengumpulkan tugas, melihat informasi seputar perkuliahan, dll. Wadah tersebut tidak lain adalah Scele. Saya mengharapkan implementasi seperti Scele ini juga bisa diterapkan kepada institusi lain, paling tidak mulai dari SMP atau SMA. Karena yang saya tahu untuk fakultas di Universitas Indonesia sendiri baru Fakultas Ilmu Komputer yang menerapkan metode pembelajaran seperti ini. Saya memahami bahwa ada hambatan untuk menerapkan metode ini pada semua level pendidikan, antara lain masalah infrastruktur IT yang belum tersebar secara merata, mahalnya akses internet di Indonesia dan pemahaman si pengajar terhadap IT. Oleh karena itu menurut saya solusinya adalah sekolah atau institusi belajar dapat menyediakan fasilitas internet yang memungkinkan siswa dapat mengakses modul yang mereka pelajari secara gratis. Training IT kepada para guru juga diperlukan agar guru tersebut dapat membuat modul e-learning. Bila gurunya saja tidak memahami bagaimana membuat modul, maka implementasi seperti Scele tidak akan bisa dilaksanakan.

Keempat, TIK dapat memberikan wadah bagi suatu institusi untuk bekerja sama dengan institusi lain untuk sharing resource. Misalnya Universitas Indonesia dapat bekerja sama dengan universitas lain misalnya Nanyang University di Singapura. Jadi mahasiswa UI dapat mempelajari modul yang diajarkan di Nanyang dan mengikuti forum diskusinya tanpa harus jauh-jauh kuliah di Nanyang. Hal ini akan meningkatkan kualitas mahassiwa UI karena wawasannya bertambah. Harapannya adalah kita bisa memiliki mahasiswa UI yang berkualitas Nanyang. Sedangkan bagi Nanyang sendiri mereka juga akan memiliki wawasan mengenai bagaimana perkuliahan di Indonesia.

Saya meyakini bahwa semua gagasan di atas akan percuma saja bila cost untuk memanfaatkan TIK itu sendiri sangat tinggi dan infrastruktur IT belum tersebar merata. Cost yang dimaksud antara lain cost untuk mengakses internet, cost untuk SMS gateway, dll. Cost yang tinggi akan menjadi kendala utama karena percuma saja teknologi yang super canggih telah dibangun akan tetapi pengguna atau peminat dari teknologi tersebut tidak ada. Jika dibandingkan dengan negara lain yaitu India, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina, cost budget internet di Indonesia adalah yang termahal. Di Singapura, pemerintah Singapura sudah berani untuk menggratiskan setiap warganya untuk menggunakan internet brodband dengan kecepatan 1Gbps selama setahun. Dibandingkan dengan India pun, cost budget Internet di Indonesia lebih mahal 54 kali dibandingkan cost budget yang dibutuhkan masyarakat India untuk dapat mengakses internet. Jadi disini perlu kerja sama yang sangat baik antara pemerintah dengan institusi lain terkait dengan TIK agar dapat mengusahakan cost yang rendah dalam pemanfaatan TIK. Upaya yang dapat dilakukan antara lain menambah anggaran pemerintah terhadap pendidikan, kerja sama antara pemerintah dengan ISP di Indonesia, dll.

Pemanfaatan TIK pada bidang pendidikan ini tentunya memerlukan pengawasan dari pihak-pihak tertentu sehingga dalam pelaksanaannya tidak disalahgunakan. Misalnya saja jangan sampai penggunaan internet justru digunakan untuk bermain games, melihat situs porno, melihat berita yang kurang penting (seperti gosip), dll. Hal tersebut bisa diantisipasi dengan memblock situs-situs yang membahayakan dan melakukan pengawasan secara langsung di lapangan. Selain itu banyak content yang disediakan di internet menggunakan bahasa Inggris. Akibatnya adalah siswa harus meningkatkan skill mereka dalam bahasa Inggris agar dapat memahami dengan baik informasi yang disampaikan pada situs tersebut.

Sumber :
Oleh: Evi Yulianti, staff.blog.ui.ac.id

Posted in School Information SystemComments (0)


Follow openthinksas on Twitter


Advertising



Related Sites

PHVsPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19hZHNfcm90YXRlPC9zdHJvbmc+IC0gdHJ1ZTwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2FkX2ltYWdlXzE8L3N0cm9uZz4gLSBodHRwOi8vd3d3Lndvb3RoZW1lcy5jb20vYWRzLzEyNXgxMjVhLmpwZzwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2FkX2ltYWdlXzI8L3N0cm9uZz4gLSBodHRwOi8vd3d3Lndvb3RoZW1lcy5jb20vYWRzLzEyNXgxMjViLmpwZzwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2FkX2ltYWdlXzM8L3N0cm9uZz4gLSBodHRwOi8vd3d3Lndvb3RoZW1lcy5jb20vYWRzLzEyNXgxMjVjLmpwZzwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2FkX2ltYWdlXzQ8L3N0cm9uZz4gLSBodHRwOi8vd3d3Lndvb3RoZW1lcy5jb20vYWRzLzEyNXgxMjVkLmpwZzwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2FkX21wdV9hZHNlbnNlPC9zdHJvbmc+IC0gPHNjcmlwdCB0eXBlPVwidGV4dC9qYXZhc2NyaXB0XCI+PCEtLQ0KZ29vZ2xlX2FkX2NsaWVudCA9IFwiY2EtcHViLTcxODAzMzkyNDUzOTQ4MDdcIjsNCi8qIE9wZW5UaGlua1NBUywgMzAweDI1MCwgY3JlYXRlZCA4LzE5LzEwICovDQpnb29nbGVfYWRfc2xvdCA9IFwiMzAzNjU0Mzk5MFwiOw0KZ29vZ2xlX2FkX3dpZHRoID0gMzAwOw0KZ29vZ2xlX2FkX2hlaWdodCA9IDI1MDsNCi8vLS0+DQo8L3NjcmlwdD4NCjxzY3JpcHQgdHlwZT1cInRleHQvamF2YXNjcmlwdFwiDQpzcmM9XCJodHRwOi8vcGFnZWFkMi5nb29nbGVzeW5kaWNhdGlvbi5jb20vcGFnZWFkL3Nob3dfYWRzLmpzXCI+DQo8L3NjcmlwdD48L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19hZF9tcHVfZGlzYWJsZTwvc3Ryb25nPiAtIGZhbHNlPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fYWRfbXB1X2ltYWdlPC9zdHJvbmc+IC0gaHR0cDovL29wZW50aGlua2xhYnMuY29tL2ltYWdlcy93b3Jrc2hvcF9saXN0LmdpZjwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2FkX21wdV91cmw8L3N0cm9uZz4gLSBodHRwOi8vd29ya3Nob3Aub3BlbnRoaW5rbGFicy5jb20vPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fYWRfdG9wX2Fkc2Vuc2U8L3N0cm9uZz4gLSA8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19hZF90b3BfZGlzYWJsZTwvc3Ryb25nPiAtIHRydWU8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19hZF90b3BfaW1hZ2U8L3N0cm9uZz4gLSBodHRwOi8vd3d3Lndvb3RoZW1lcy5jb20vYWRzLzQ2OHg2MGEuanBnPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fYWRfdG9wX3VybDwvc3Ryb25nPiAtIGh0dHA6Ly93d3cud29vdGhlbWVzLmNvbTwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2FkX3VybF8xPC9zdHJvbmc+IC0gaHR0cDovL3d3dy53b290aGVtZXMuY29tPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fYWRfdXJsXzI8L3N0cm9uZz4gLSBodHRwOi8vd3d3Lndvb3RoZW1lcy5jb208L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19hZF91cmxfMzwvc3Ryb25nPiAtIGh0dHA6Ly93d3cud29vdGhlbWVzLmNvbTwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2FkX3VybF80PC9zdHJvbmc+IC0gaHR0cDovL3d3dy53b290aGVtZXMuY29tPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fYWx0X3N0eWxlc2hlZXQ8L3N0cm9uZz4gLSBncmVlbi5jc3M8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19hdXRob3I8L3N0cm9uZz4gLSB0cnVlPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fYXV0b19pbWc8L3N0cm9uZz4gLSBmYWxzZTwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2N1c3RvbV9jc3M8L3N0cm9uZz4gLSA8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19jdXN0b21fZmF2aWNvbjwvc3Ryb25nPiAtIDwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2ZlYXR1cmVkX2NhdGVnb3J5PC9zdHJvbmc+IC0gTmV3czwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2ZlYXRfZW50cmllczwvc3Ryb25nPiAtIDQ8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19mZWVkYnVybmVyX2lkPC9zdHJvbmc+IC0gT3BlblRoaW5rU0FTPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fZmVlZGJ1cm5lcl91cmw8L3N0cm9uZz4gLSBodHRwOi8vZmVlZHMuZmVlZGJ1cm5lci5jb20vT3BlbnRoaW5rU0FTPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fZ29vZ2xlX2FuYWx5dGljczwvc3Ryb25nPiAtIDwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2hvbWU8L3N0cm9uZz4gLSB0cnVlPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29faG9tZV90aHVtYl9oZWlnaHQ8L3N0cm9uZz4gLSA1NzwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2hvbWVfdGh1bWJfd2lkdGg8L3N0cm9uZz4gLSAxMDA8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19pbWFnZV9zaW5nbGU8L3N0cm9uZz4gLSBmYWxzZTwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX2xvZ288L3N0cm9uZz4gLSBodHRwOi8vc2FzLm9wZW50aGlua2xhYnMuY29tL3dwLWNvbnRlbnQvd29vX3VwbG9hZHMvNS1sb2dvX3dpdGhfdGV4dF9zYXMucG5nPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fbWFudWFsPC9zdHJvbmc+IC0gaHR0cDovL3d3dy53b290aGVtZXMuY29tL3N1cHBvcnQvdGhlbWUtZG9jdW1lbnRhdGlvbi9nYXpldHRlLWVkaXRpb24vPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fcmVzaXplPC9zdHJvbmc+IC0gdHJ1ZTwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX3Nob3J0bmFtZTwvc3Ryb25nPiAtIHdvbzwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX3Nob3dfY2Fyb3VzZWw8L3N0cm9uZz4gLSBmYWxzZTwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX3Nob3dfdmlkZW88L3N0cm9uZz4gLSBmYWxzZTwvbGk+PGxpPjxzdHJvbmc+d29vX3NpbmdsZV9oZWlnaHQ8L3N0cm9uZz4gLSAxODA8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb19zaW5nbGVfd2lkdGg8L3N0cm9uZz4gLSAyNTA8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb190YWJzPC9zdHJvbmc+IC0gZmFsc2U8L2xpPjxsaT48c3Ryb25nPndvb190aGVtZW5hbWU8L3N0cm9uZz4gLSBHYXpldHRlPC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fdXBsb2Fkczwvc3Ryb25nPiAtIGE6Mzp7aTowO3M6NzY6Imh0dHA6Ly9zYXMub3BlbnRoaW5rbGFicy5jb20vd3AtY29udGVudC93b29fdXBsb2Fkcy81LWxvZ29fd2l0aF90ZXh0X3Nhcy5wbmciO2k6MTtzOjc2OiJodHRwOi8vc2FzLm9wZW50aGlua2xhYnMuY29tL3dwLWNvbnRlbnQvd29vX3VwbG9hZHMvNC1sb2dvX3dpdGhfdGV4dF9zYXMucG5nIjtpOjI7czo3MjoiaHR0cDovL3Nhcy5vcGVudGhpbmtsYWJzLmNvbS93cC1jb250ZW50L3dvb191cGxvYWRzLzMtbG9nb193aXRoX3RleHQuanBnIjt9PC9saT48bGk+PHN0cm9uZz53b29fdmlkZW9fY2F0ZWdvcnk8L3N0cm9uZz4gLSBOZXdzPC9saT48L3VsPg==