Oleh : Joko W
Ini sebuah cerita di tahun 1985 ketika saya yang masih sangat muda baru berusia 22 tahun menjadi guru honorer di SMA swasta di daerah Rawa Belong wilayah diantara slipi dan kampung sukabumi di Jakarta barat. Kampung rawa belong adalah kampung kelahiran Si Pitung Jagoan Betawi yang sangat populer dan melegenda . Di sana juga bermukim para tuan tanah, centeng, dan para jawara. Jawara istilah yang dikenal masyarakat betawi sebagai orang yang jago silat dan selalu menjadi pemenang (juara) dalam perkelahian.
Di awal saya mengajar saya ditempatkan di SMA kelas 2 IPS5, kelas itu ” dikuasai” oleh seorang siswa pimpinan geng yang sangat berpengaruh di rawa belong. Ketika saya masuk ruang kelas hanya beberapa orang yang menjawab salam saya. Setengah kelas bergerombol bernyanyi dan main gitar. saya segera menyadari bahwa saya sdg diuji oleh mereka. Saya teringat pesan ayah saya, “bila menghadapi remaja, kita harus punya strategi, kita harus berusaha untuk ”masuk melalui jalan mereka, dan keluar melalui jalan kita”. Kata ayah saya.
Saya coba terapkan nasehat ayah saya itu. Saya langsung ambil prakarsa untuk berbaur bersama mereka, saya ajak anak yang di depan utk ke belakang dan bernyanyi bersama, kelas jadi riuh, satu lagu, selesai saya berteriak “lagi, satu lagu lagi”, suasana sudah mulai saya kuasai, sampai lagu ketiga”. Setelah itu saya tawarkan kepada mereka untuk membuat acara rekreasi dan bernyanyi sepuasnya, sambil memuji pemain gitar dan kelas yang meriah itu. Perlu waktu 30 menit untuk menguasai kelas, kemudian perkenalan, satu persatu saya coba mengenal mereka, saya puji mereka baik melalui pujian arti nama mereka yang bagus, penampilan yang baik, senyuman, sikap, ketrampilan main gitar, menyanyi, pemimpin geng itu bernama Munir, saya puji sebagai orang yg pendiam penuh kharisma, bahkan yang suka teriak saya puji sebagai calon supporter yang andal.
Suasana kelas cair, pertemuan pertama saya anggap sukses. Pertemuan kedua, saya disambut hangat, cuma Munir saja yang kelihatan “Jaim”, sementara saya diamkan yg penting tidak mengganggu. Munir dikenal pemimpin geng yang ditakuti di pasar rawa belong, diwaktu malam dia bekerja sebagai “keamanan” atau preman, wajahnya dingin, sorot matanya tajam. Dia pernah mengejar guru pakai golok ketika tidak naik kelas. Anak buahnya sesama anggota geng banyak yang ada kelas lain di sekolah itu. Pihak sekolah kewalahan, bahkan pihak yayasan, memanggil guru silat dari Cimande utk melatih silat para guru, dgn alasan membentengi guru-guru dari kemungkinan diserang murid dan orang tua. Itu beralasan, karena pemandangan aneh terjadi ketika pembagian rapor, orang tua dengan pakaian pesilat dg golok dipinggang berseliweran di pintu gerbang sekolah.
Saya sendiri sebagai guru muda yang masih idealis tidak sependapat dengan cara-cara beladiri spt itu. Saya punya prinsip dengan kebaikan mereka anak didik bisa kita rebut hatinya.
Begitu juga dengan Munir pimpinan geng di sekolah itu, saya harus menaklukkan hatinya. Begitulah ketika pertemuan kedua berakhir, saya panggil Munir dengan bahasa yang sopan, saya katakan bahwa saya minta bantuan dia sehubungan dengan ada orang yang mengancam saya, saya buat skenario seolah saya sdg diancam orang dan butuh bantuannya.
Responnya Munir sangat luar biasa, dia bilang, saya akan bantu bapak, “siapa yang berani mengancam bapak akan saya sikat”, katanya pancingan saya berhasil.
Tanpa saya duga, besoknya Munir bertindak, dia masuk ke semua ruang kelas dan menyampaikan kepada warga kelas bahwa katanya “Loe boleh macem macem sama guru laen, tapi tidak sama Pak Joko, kalau loe loe pade berani ngancem pak Joko, loe berhadapan dengan gue” kata Munir. Saya mendapat laporan dari guru-guru senior yang terheran heran menanyakan bagaimana bisa menaklukkan Munir. Hubungan saya dengan Munir menjadi spt Kakak Adik karena usia kami hanya terpaut 3 tahun, saya membantu kesulitan belajar dia sampai dia bisa naik kelas dg kerja kerasnya. Munir pernah cerita bahwa dia menjadi preman karena protes kpd bapaknya, bapak saya tanahnya banyak Pak, kerjanya jual tanah trus kawin cerai kawin cerai. Saya benci, saya memutuskan hidup sendiri dengan dapat uang di pasar,
Saya berbicara spt itu di warung bakso, saya rencanakan akan traktir dia dg gaji pertama saya. Namun, saya kalah cepat, dia dulu yang bayarin saya. Tukang bakso gak mau terima uang dari Munir karena takut ada apa-apa-nya ttg keamanannya, tapi saya kasih kode utk menerimanya..siapa yang berani sama preman, pikirnya..
Begitulah, buat saya tidak ada kamusnya melakukan kekerasan kepada siswa, dengan perhatian dan kebaikan hati kita bisa menaklukan anak didik kita betapapun parahnya ..butuh kesabaran dan strategi….
“Masuk dari pintu mereka, keluar dari pintu kita” adalah salah satu strategi saya menaklukan Munir, siapa mau coba…?
Salam,
Joko W
Sumber : Milis Ikatan Guru Indonesia



Komentar Terakhir